Selamat pagi, Jakarta
Apa kabarnya hari ini?
Ah, seperti biasa, seperti biasa ya?
Sibuk, seperti biasa ya?
Ramainya hari ini
Seperti biasa ya?
Seperti biasa
Macet ya?
Ya kamu tahu sendiri Jakarta lah!
Di mana sih tidak macet?
Masalahnya sibuk atau tidak?
Macet itu kan sibuk?
Hmm sibuk?
Hmm sibuk…
Sibuk ya?
Ramai juga ini macet.
Ah, selamat pagi, Jakarta!
Dengar suara-suara tukang roti?
Roti! Roti!
Atau tenonenonet! Suara melodi soundtrack roti?
Itu sibuk juga, Jakarta!
Sibuk?
Hmm sibuk!
Oh iya, saya sedang naik motor
Kamu dengar suara tabrakan dan caci maki pengemudi?
Wah, sibuk!
Ramai dan sibuk!
Macet!
Untung saya naik motor, salip…
Eh cewek cakep!!
Wah sibuk…
Wah asap juga sibuk!
Debu sama sibuk
Bergotong royong, Jakarta!
Debu dan asap dan debu dan deru!
Mereka sibuk juga!
Gotong royong di seluruh Jakarta!
Wah, kasihan manusia, ya?
Saling sibuk pula
Kok ada yang menyeret-nyeret kaki di pingir jalan, Jakarta?
Manusia memang sibuk ya?
Menyodorkan kaleng berkarat ke sana-sini
Begitu bisa juga sibuk ternyata
Jalan-jalan pagi
Hmm, mata saya tiba-tiba jadi tajam!
Saya bisa lihat Plumbum dan Karbonmonoksida seliweran di hidung manusia
Kasihan…
Oh iya, saya lupa menyapa Tuhan
Sibuk tidak ya?
Saya juga sibuk, Jakarta
Jakarta sibuk ya?
Mau dengar saya tidak?
Jakarta?
Halo, Jakarta?
TET TET TET TET TET!!!
DIN DIN!!!
NIT NIT!!!
BRAK!!!
CIT!!
Hujan…
30/8/04
Kumpulan Puisi Ignas Praditya Putra berisi kumpulan dari puisi-puisi yang gwe edarkan lewat internet atau coret2an di gak jelas tempat, bisa dari blog, atau yang lain. Sayangnya dari internet yang lain itu... BANYAK HILANG.
Showing posts with label agustus. Show all posts
Showing posts with label agustus. Show all posts
Saturday, October 27, 2007
Aku Ingin Kembali
Aku Ingin Kembali
Aku ingin kita kembali
Di masa kita tiada jarak
Kenangan terus kugali
Hingga waktu tak lagi gerak
Kulihat diriku di masa
Kutahu lidahku kelu
Sungguh ku ingin kau merasa
Meringkuk ragu aku malu
Belaianmu di kepala
Masih kurasa
Senyumanmu yang manis
Masih kuingat
Nakalmu di sekolah
Masih terasa
Malu kan lawan jenis
Masih teringat
Dan aku kembali
Dan kau tidak
Aku kembali
Kau tidak
LBIF18
Kamis, 090807 - 21.17
Aku ingin kita kembali
Di masa kita tiada jarak
Kenangan terus kugali
Hingga waktu tak lagi gerak
Kulihat diriku di masa
Kutahu lidahku kelu
Sungguh ku ingin kau merasa
Meringkuk ragu aku malu
Belaianmu di kepala
Masih kurasa
Senyumanmu yang manis
Masih kuingat
Nakalmu di sekolah
Masih terasa
Malu kan lawan jenis
Masih teringat
Dan aku kembali
Dan kau tidak
Aku kembali
Kau tidak
LBIF18
Kamis, 090807 - 21.17
Sunday, October 14, 2007
Sabarlah, Waktu
Sabarlah, Waktu
Ah, akhirnya pagi
Aku lama menanti
Ini hari yang kutunggu
Telah kubuang hari lalu
Bukan percuma
Bukan tak berharga
Namun aku tak sabar
Menunggu berdebar-debar
Tik tik tik tik
Waktu berjalan kala ku menerawang
Andai awan atau langit dapat kupetik
Untuknya, andai ku dapat tembus ruang
Kemudian kala itu datang
Hatiku riang gembira
Ah rasanya senang
Ah dapatkah hatiku bersuara
Ku berbicara dan kami tertawa biasa
Andai hatiku dapat sunggingkan senyum
Berarti ia pun dapat pahami rasa
Berarti bukanlah maklum
Hei, waktu, mengapa kini telah gelap?
Apa kau terburu-buru?
Sudah lelahkah? Mengantukkah?
Bukankah baru saja kala itu tiba?
Sabarlah, waktu
Tak tahukah telah kunanti lama?
Apakah tersinggung hatimu
Saat ku buang dirimu demi ini kala?
Senyumnya melemah
Waktu, kau buatnya pun lelah bersamamu?
Mengapa?
Aku tak minta banyak
Hanya cukup bersabar sebentar?
Waktu?
Waktu?
Kau... telah lelap?
Kala berikutnya
Ia tak di sini
Waktu
Telah lelap...
Esok
Kala yang lain
Didz - 19 Agustus 2006 - 02.37 AM
Ah, akhirnya pagi
Aku lama menanti
Ini hari yang kutunggu
Telah kubuang hari lalu
Bukan percuma
Bukan tak berharga
Namun aku tak sabar
Menunggu berdebar-debar
Tik tik tik tik
Waktu berjalan kala ku menerawang
Andai awan atau langit dapat kupetik
Untuknya, andai ku dapat tembus ruang
Kemudian kala itu datang
Hatiku riang gembira
Ah rasanya senang
Ah dapatkah hatiku bersuara
Ku berbicara dan kami tertawa biasa
Andai hatiku dapat sunggingkan senyum
Berarti ia pun dapat pahami rasa
Berarti bukanlah maklum
Hei, waktu, mengapa kini telah gelap?
Apa kau terburu-buru?
Sudah lelahkah? Mengantukkah?
Bukankah baru saja kala itu tiba?
Sabarlah, waktu
Tak tahukah telah kunanti lama?
Apakah tersinggung hatimu
Saat ku buang dirimu demi ini kala?
Senyumnya melemah
Waktu, kau buatnya pun lelah bersamamu?
Mengapa?
Aku tak minta banyak
Hanya cukup bersabar sebentar?
Waktu?
Waktu?
Kau... telah lelap?
Kala berikutnya
Ia tak di sini
Waktu
Telah lelap...
Esok
Kala yang lain
Didz - 19 Agustus 2006 - 02.37 AM
Untuk Kau Dan Bayangan Kau
Bayanganmu kekal tampaknya
Artinya kau hidup selalu dalam terang cahaya
Kau bebas bercengkrama dengannya
Dan ia pun tidak akan meninggalkan kau
Entahlah kalau aku datang
Apakah menjadi cahaya di arah yang lain
Hingga tercita bayangan baru
Atau menjadi kegelapan
Tampaknya kedua pilihan bukan terbaik
Aku pun hanya bisa menunggu
Menunggu kau menyalakan lampu
Untuk menghapus bayangan kau
Lalu kau dapatkan cahaya baru
Yang adalah aku
Namun tetap aku ragu
Cahaya atau kegelapan kah aku
Didz, 19 Agustus 2006, 02.11 AM
Artinya kau hidup selalu dalam terang cahaya
Kau bebas bercengkrama dengannya
Dan ia pun tidak akan meninggalkan kau
Entahlah kalau aku datang
Apakah menjadi cahaya di arah yang lain
Hingga tercita bayangan baru
Atau menjadi kegelapan
Tampaknya kedua pilihan bukan terbaik
Aku pun hanya bisa menunggu
Menunggu kau menyalakan lampu
Untuk menghapus bayangan kau
Lalu kau dapatkan cahaya baru
Yang adalah aku
Namun tetap aku ragu
Cahaya atau kegelapan kah aku
Didz, 19 Agustus 2006, 02.11 AM
Subscribe to:
Posts (Atom)